Mengetahui Fakta tentang Kandungan Gula dalam Produk Isagenix

//Mengetahui Fakta tentang Kandungan Gula dalam Produk Isagenix

Mengetahui Fakta tentang Kandungan Gula dalam Produk Isagenix

Penggunaan gula dalam jumlah sederhana untuk rasa manis alami dalam produk Isagenix sering menimbulkan pertanyaan dari konsumen yang sadar akan kesehatan.

Sebagian besar dari kita mengkonsumsi terlalu banyak gula, dengan perkiraan konsumsi rata-rata mendekati 120 gram gula per orang per hari di Amerika Utara. Karbohidrat, termasuk gula atau fruktosa, yang dikonsumsi dalam jumlah yang melebihi kalori seseorang dapat menyebabkan penambahan berat badan dan terkait masalah kesehatan.

Namun, bukti tersebut tidak menunjukkan bahwa gula atau fraktosa berbahaya sebagai sumber karbohidrat, selama dikonsumsi dalam jumlah yang seimbang sebagai bagian dari diet yang megendalikan kalori.

Kebanyakan Orang Mengurangi Konsumsi Gula dan Karbohidrat dengan Isagenix

Konsumen yang mengikuti panduan sistem Isagenix secara benar cenderung mengurangi asupan karbohidrat dan gula secara drastis.

Bukti penurunan jumlah karbohidrat ini ditemukan dalam penelitian ilmiah yang mengevaluasi produk Isagenix. Dalam sebuah studi yang dilakukan di Skidmore College baru-baru ini, subjek studi mengurangi asupan total karbohidrat sekitar setengah dan kandungan gula hampir dua per tiga dari rata-rata (1).

Pengurangan ini terjadi meski menggunakan sejumlah kecil karbohidrat dan gula dalam produk Isagenix termasuk dalam produk pengganti makanan seperti IsaShake. Pengurangan kalori membantu untuk mendukung penurunan berat badan termasuk penerununan lemak viseral diantara perserta studi (1).

Mengapa Fruktosa Diutamakan dalam Produk Pengganti Makanan

Dalam produk pengganti makanan seperti IsaShake, jumlah total kandungan gula sekitar 11 gram yang setengah dari jumlah ini merupakan fruktosa, tergantung dari rasanya. Jumlahnya setara dengan apel berukuran sedang yang juga setengahnya mengandung gula alami sebagai fruktosa.

Bila digunakan dalam makanan pengganti yang mengendalikan kalori, fruktosa adalah bahan yang disukai karena lebih manis daripada jenis gula lain atau sumber karbohidrat lainnya, yang secara keseluruhan memungkinkan penggunaan gula lebih sedikit.

Selain itu, jika kandungan fruktosa terkandung secara cukup sebagai bagian dari makanan, makanan tersebut dapat memberikan manfaat terukur. Dibandingkan dengan gula lainnya, mengkonsumsi fruktosa dapat membantu kenaikan kadar glukosa darah yang lebih moderat. Penelitian dengan kontrol yang baik telah menunjukkan bahwa adanya kandungan fruktosa secara cukup pada makanan dapat mendukung pemeliharaan tingkat gula darah yang lebih baik dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya (2).

Bukti terkini berasal dari peneliti Australia dan Selandia Baru yang melakukan meta-analisis uji coba terkendali secara acak untuk mengevaluasi efek fruktosa bila digunakan sebagai pengganti sumber karbohidrat lain seperti glukosa atau sukrosa (4). Para ilmuwan menemukan bahwa fruktosa memiliki efek yang jauh lebih rendah pada glukosa darah dan respon insulin.

Menjelaskan Kontroversi Fruktosa

Beberapa kontroversi telah ada sebelumnya terkait fruktosa dikarenakan metabolismenya yang unik pada kerja hati. Hal ini karena kekhawatiran yang ditunjukkan bahwa konsumsi fruktosa berlebihan dapat menyebabkan akumulasi lemak tubuh yang mencakup lemak viseral ketika dilakukan penelitian pada hewan (3).

Namun, data klinis pada manusia tidak mendukung hipotesis bahwa fruktosa menimbulkan adanya bahaya unik, sebagian besar bukti menunjukkan bahwa asupan fruktosa dalam jumlah normal kebanyakan dikonversi menjadi glukosa atau glikogen dan dibakar sebagai energi (3).

Konsumsi fruktosa seharusnya tidak menjadi perhatian ketika digunakan secara sengaja dalam konteks rencana makan yang mengendalikan kalori. Sebagai tambahan, subjek penelitian mengalami penurunan kadar lemak total, abdominal dan viseral yang signifikan  pada sebuah studi terkini yang mengevaluasi penurunan berat badan pada program Isagenix yang menggunakan IsaShake (1).

Mengapa Tidak Cukup Hanya dengan Menggunakan Stevia?

Pertanyaan yang umum dan masuk akal dari konsumen adalah mengapa tidak hanya stevia yang semata-mata digunakan sebagai pemanis pada pengganti makanan.

Ekstrak daun alami pada stevia telah digunakan untuk memberi sedikit rasa manis pada IsaShake dan produk Isagenix lainnya. Stevia bukan sumber karbohidrat atau gula dan tidak memberikan kalori sama sekali. Hal ini juga berdasar pada studi terbaru yang menunjukkan bahwa hal itu juga bisa membantu pengelolaan gula darah (5).

Jawabannya adalah bahwa dengan adanya sedikit kandungan gula merupakan hal yang baik dalam makanan yang bergizi ataupun pengganti makanan. Hal ini tidak hanya penting untuk rasa manisnya saja, namun juga bisa membantu memberikan keseimbangan karbohidrat untuk energi dan bahan bakar aktivitas fisik (6).

 

Referensi:

  1. Arciero PJ, Edmonds R, He F, Ward E, Gumpricht E, Mohr A, Ormsbee MJ, Astrup A. Protein-pacing caloric-restriction enhances body composition similarly in obese men and women during weight Loss and sustains efficacy during long-term weight maintenance. Nutrients 2016, 8(8), 476; doi: 3390/nu8080476.
  2. Cozma AI et al. Effect of fructose on glycemic control in diabetes: A systematic review and meta-analysis of controlled feeding trials. Diabetes Care 2012;35:1-10.
  3. Evans RA, Frese M, Romero J, Cunningham JH, Mills KE. Fructose replacement of glucose or sucrose in food or beverages lowers postprandial glucose and insulin without raising triglycerides: a systematic review and meta-analysis. Am J Clin Nutr 2017 Aug;106(2):506-518. Available at: http://ajcn.nutrition.org/content/106/2/506.
  4. Tappy L, KA L. Metabolic effects of fructose and the worldwide increase in obesity. Physiol Rev. 2010 Jan;90(1):23-46.
  5. Goyal SK, Samsher, Goyal RK. Stevia (Stevia rebaudiana) a bio-sweetener: a review. International Journal of Food Sciences and Nutrition 2009;61(1):1-10. doi:10.3109/09637480903193049.
  6. Burke LM, Loucks AB & Broad N. Energy and carbohydrate for training and recovery. J Sports Sci. 2006 Jul; 24(7):675-85.
2018-04-03T02:10:10+00:00 Maret 28th, 2018|Produk|